Menyesap Harmoni dalam Semangkok Bubur Pedas Sambas - Blogger Sambas

Blogger Sambas

-- Official Website --

Ge' Viral ni

Home Top Ad

Post Top Ad

Menyesap Harmoni dalam Semangkok Bubur Pedas Sambas

Menyesap Harmoni dalam Semangkok Bubur Pedas Sambas: Lebih dari Sekadar Kuliner, Ini Cerita Tentang Kebersamaan

Oleh: Hapi Paizal | Food Story
Hidangan bubu pedas
Foto oleh: -

Bagi saya, mencicipi kuliner lokal bukan sekadar memanjakan lidah, melainkan menyelami filosofi masyarakatnya. Di Kabupaten Sambas, ada satu hidangan yang memegang kasta tertinggi dalam hal tradisi: Bubur Pedas. Bukan sekadar campuran beras dan sayur, makanan ini adalah simbol pemersatu yang mengikat erat silaturahmi antarwarga.

Petualangan Mencari 'Miding' di Fajar Menyingsing

Pagi itu, sekitar pukul 05.15 WIB di Desa Sepadu, Kecamatan Teluk Keramat, saya menyaksikan harmoni kehidupan desa dimulai. Kabut tipis masih menyelimuti tanah saat Dwi, seorang warga setempat, bersama para sahabatnya bersiap menuju tepian hutan. Berbekal perlengkapan sederhana, misi mereka adalah berburu miding atau pakis liar yang menjadi nyawa dari bubur ini.

Setelah menempuh perjalanan singkat, kami tiba di area perkebunan karet dan sawit yang rimbun. Di sinilah tanaman Stenochlaena palustris atau pakis miding tumbuh subur secara alami. Dwi dengan lihai memetik pucuk pakis yang masih muda—berwarna hijau kemerahan dan bertekstur lembut—untuk memastikan rasa bubur yang otentik dan nikmat.

“Inilah kekayaan alam kami. Siapa saja boleh mengambil miding yang tumbuh liar ini secara gratis untuk dimasak bersama,” ujar Dwi sembari menunjukkan segenggam pakis segar.

Tradisi Masak Beramai-ramai: Ritual Pengikat Hati

Yang paling unik dari Bubur Pedas adalah proses pembuatannya. Tak lama setelah pakis terkumpul, suasana di dapur salah satu warga mendadak riuh. Belasan orang—mulai dari anak kecil hingga lansia—berkumpul membawa 'upeti' berupa sayur-mayur dari kebun sendiri. Ada yang membawa singkong, rebung, daun kesum, hingga jagung.

Proses meracik bumbu pun dilakukan secara kolektif. Ada ritual menyangrai beras bersama lada hitam, lada putih, dan kelapa parut hingga aromanya menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Bumbu inilah yang memberikan rasa "pedas" khas rempah, bukan pedas cabai yang membakar lidah.

  • Komposisi Sayur: Kangkung, tauge, kacang panjang, wortel, hingga rebung dicincang halus dan dicuci bersih.
  • Aroma Khas: Penggunaan daun kesum dan batang lengkuas muda menjadi kunci aroma yang menggugah selera.
  • Pelengkap Sempurna: Bubur disajikan dengan taburan ikan teri goreng, kacang tanah, kucuran jeruk limau, dan sambal ulek bagi pecinta sensasi panas.

Jejak Sejarah: Dari Hidangan Raja hingga Menu Pejuang

Berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat Melayu Sambas, Syamsiah, Bubur Pedas sejatinya memiliki sejarah yang sangat sakral. Dahulu, hidangan kaya serat ini merupakan menu khusus di lingkungan Kerajaan Sambas yang hanya disajikan pada acara adat penting.

Namun, saat masa penjajahan, Bubur Pedas bertransformasi menjadi makanan bertahan hidup. Karena keterbatasan stok pangan, masyarakat mencampur sedikit beras dengan aneka sayuran yang tersedia di sekitar mereka untuk menghemat biaya tanpa mengurangi gizi. Sejak itulah, makanan ini dikenal sebagai simbol perjuangan dan persatuan masyarakat Sambas.

Kini, Anda tak perlu menunggu acara sakral untuk menikmatinya. Bubur Pedas telah naik kelas, mulai dari warung kaki lima hingga restoran berbintang di kota-kota besar bahkan merambah ke negara tetangga seperti Malaysia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad