Post Top Ad

Jelang Idulfitri 2026: Arus Penumpang Bus Entikong–Sambas Sepi

Jelang Idulfitri 2026: Arus Penumpang Bus Entikong–Sambas Sepi, Sopir Keluhkan Dampak Akses PLBN Aruk

Oleh: Redaksi Blogger Sambas | Kamis, 12 Maret 2026
Bus penumpang entikong sambas.
Foto oleh: Kompas

SAMBAS – Menjelang perayaan Idulfitri tahun ini, sektor transportasi darat rute Entikong–Sambas dilaporkan mengalami penurunan jumlah penumpang yang cukup signifikan. Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi para penyedia jasa transportasi, khususnya para sopir bus yang menggantungkan pendapatan pada momentum mudik lebaran.

Salah seorang sopir bus trayek Entikong–Sambas, Anhar, mengungkapkan bahwa situasi saat ini berbanding terbalik dengan kondisi beberapa tahun silam. Menurut pengakuannya, dalam satu hari operasional, jumlah penumpang yang menggunakan jasanya kini hanya berkisar antara lima hingga tujuh orang saja.

Dampak Pembukaan Akses PLBN Aruk

Berdasarkan pengamatan di lapangan, Anhar menilai salah satu faktor utama yang memicu merosotnya okupansi penumpang adalah telah dibukanya akses lintas batas melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.

Sejak jalur internasional tersebut dioperasikan secara optimal sejak tahun 2013, arus perjalanan masyarakat, khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) maupun wisatawan, cenderung beralih menggunakan jalur perbatasan Aruk yang dinilai lebih efisien bagi sebagian wilayah di Kabupaten Sambas.

“Sangat jauh berkurang penumpang sekarang. Menjelang Idulfitri tahun ini, setiap hari hanya lima sampai tujuh orang. Penyebab utama diduga karena akses PLBN Aruk yang sudah terbuka, sehingga banyak penumpang memilih pulang lewat jalur sana,” ujar Anhar saat dikonfirmasi, Kamis (12/3/2026).

Pendapatan Sopir Merosot Tajam

Penurunan volume penumpang ini secara otomatis berdampak langsung pada stabilitas ekonomi para awak bus. Anhar mengisahkan, pada masa kejayaannya, satu kali perjalanan (rit) bisa menghasilkan pendapatan bruto hingga jutaan rupiah. Namun saat ini, untuk menutupi biaya operasional seperti bahan bakar, para sopir mengaku cukup kesulitan.

  • Pendapatan Masa Lalu: Estimasi mencapai Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000 per perjalanan.
  • Kondisi Saat Ini: Pendapatan seringkali tidak menutupi biaya konsumsi BBM.
  • Harapan Driver: Adanya perhatian atau regulasi yang dapat menyeimbangkan ekosistem transportasi lokal.

“Sangat berpengaruh pada penghasilan. Dulu sekali berangkat bisa dapat dua sampai tiga juta rupiah, sekarang untuk bensin saja kepayahan. Namun, kami hanya bisa mengikuti aturan dan kebijakan pemerintah yang ada,” pungkasnya menutup keterangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad